Duit ini saya mahu guna untuk beli makanan kucing saya. Click Please!

28.3.12

Jake si robot antropomorfik

“Cinta adalah bunga-bunga segar harum yang dikirim surga untuk membuat dunia tersenyum” kata Jake si robot antropomorfik yang baru aku kenali sejam tadi. Di atas elarti. Jam satu pagi.

“Wajahmu (dia menyambung serius) laksana embun menyambut pagi, dan mengilhamkan bunga untuk menebarkan keharuman di musim semi, mengilhami kumbang untuk meresapi tentang keindahan sari”

Aduh! Bosannya aku.(Sebenarnya aku suka)

“Dengan segala kecantikan dan pesona hati yang begitu sempurna, semua orang akan menilai kau adalah gadis paling beruntung, hidupnya dipenuhi oleh kesenangan dan kegembiraan.” Bibirnya masih menceceh-ceceh. Menjelikkan aku! (Sebenarnya aku suka pujiannya)

Namun dia tidak pernah menyangka hal sebetulnya. Duka dan derita telah memenjarakan aku. Kau, si robot antropomorfik cuma diprogramkan untuk menghiburkan gadis kesepian seperti aku.

Engkau yang bakal mengira bahwa jiwa aku telah terangkat. Lalu terbang dari tubuh untuk mencari keagungan cinta. Tiada yang tahu tentang duka hati yang membaluti jiwa. Tiada seorang pun tahu tentang ratap tangis dan rintihan kalbu di keremangan malam.

Di balik cahaya bintang dan bulan aku melihat jasad terkulai laksana puteri tujuh beradik yang hilang cindainya. Ku memanggil-manggil pasangan jiwa yang juga terkapar dalam mesin tranfomasi semula. Ya! aku jatuh cinta padamu Jake, si robot antropomorfik

Memang pesona ketampanan yang kau miliki dapat menyembunyikan kesedihan hati akan penyakit cinta ini. Kapsul-kapsul ubatan sintetik itu, sesungguhnya ada sesuatu yang telah mencuri hatiku. Si Jake, robot antropomorfik yang selalu dikenang ketika siang dan menjelma mimpi di kala malam.

Tiada seorangpun yang dapat mengerti dan memahami kesedihan hati begitu pula keluarga terdekat. Untaian-untaian jiwa pun menjalani nasib yang sama, si robot antropomorfik seorang diri ia berkelana di tengah hutan dan lautan perasaan. ( Dia diprogramkan untuk ada sedikit naluri kemanusiaan)

Bahkan cinta mereka banyak menyumbang penderitaan yang ia rasakan lebih perih dari pasangan jiwanya. Jake (si robot antropomorfik) terbebas dan kalis aturan dan adat istiadat untuk menjaga martabat keluarga.

Tetapi cinta? Bintang cinta harus tersenyum pada sekelilingnya agar tidak dicap angkuh. Semua yang ia perbuat berjalan beriringan dengan ukuran harga diri. Semua yang ia lakukan harus sesuai dengan tuntutan masyarakatnya, demi martabat keluarga.

Tidaklah mungkin seorang gadis mentah keluar dari istananya, di mana setiap pasang mata selalu mengawasi. Hasrat hatinya terpendam untuk berjumpa dengan seorang pemuda (si robot antropomorfik) yang tinggal di sebuah makmal terpencil. Jake yang telah mencuri hatinya. Makmal rahsia yang belum pernah dikunjungi kecuali saintis penciptanya.


Gadis manis ini harus terus tersenyum walau hatinya menangis, gemerlap dunia telah memaksanya untuk memakai topeng-topeng kepalsuan.

“Aku mendengar rintihan jiwamu. Aku mendengar resahmu. Ku cuba untuk menjawab setiap pertanyaan batinmu. Kemarilah cintaku dan bersandarlah dibayang bahuku, yakinlah bahwa aku akan ada di setiap bayang. Hulurkanlah sayap patahmu, kan kugapai dan kusembuhkan dengan segala teknologi yang diprogramkan” Bisik si robot antropomorfik.

“Aku akan mengawalmu dari pencela-pencelamu Bunga-bunga boleh saja layu, tapi ku akan menjaga agar cahaya bunga itu selalu mekar di taman hati, lalu menjelma menjadi cahaya bintang yang mengisi kesunyian malam”

(Janji manis si robot antropomorfik haruskah dipercayai?)

“Duhai Jake (nama si robot antropomorfik) berjanjilah di hadapan langit dan bintang. sekalipun kita takkan bersatu, namun jiwa kita kekal dalam keabadian cinta.” Gadis lewat usia ini seakan sudah mengerti beza antara lelaki tulen dan si robot antropomorfik.

Si jejaka robot antropomorfik,
Tersenyumlah bersama mentari. Sampaikan salam kerinduanmu padaku, melalui desiran angin dan kicauan burung-burung diangkasa serukanlah segala impian indahmu. Hantar mimpi itu, melalui isyarat-isyarat yang diprogramkan ke dalam tubuhmu. Tubuh berselirat segala besi keluli dan wayar.

Ketika ku mendengarnya, aku kan rentangkan sekeping hati. Lalu ku undang jiwamu (sekiranya ada) memanggil jiwaku. Bersama kita berdua dalam rengkuhan sayap-sayap kesesatan. Menuju stesyen kebadian yang maha dungu.
Sambil Jake menyanyikan aku melodi Zee Avi yang diprogramkan untuk mmperdayakan aku.

Let's pack our bags
and lie on the easy stream
feel the water on our backs
where we can carry on dreamin'
where we can finally be
where we'd like to be
Darlin', just you and me
~zee avi, just you and me~

Kau, si robot antropomorfik cuma diprogramkan untuk menghiburkan gadis kesepian seperti aku. 
Akhirnya aku tertipu,. Keesokan harinya terpampang wajah manisku di kaca TV dan dada akhbar tempatan.  Ibu menangis merayu aku pulang. Ayah dan ahli keluarga lain berwajah sugul.

Aku gadis empat belas yang lari dari kasih sayang sejati ibu bapa ku. Menderhakai Tuhanku kerana kamu.

Kerana kau, si robot antropomorfik (atau keraa kebodohan sendiri)

20.3.12

Ini sungguh tidak adil, seperti dalam bahasa di Film-film Action Barat saat aktornya berteriak “IT’S NOT FAIR!!”

 
Dia menjerit-jerit dan berkata "It's not fair!"
Dia terlupa ini adalah pentas bernama bumi.
Dunia!

Di alam yang lagi satu semua perkara pasti adil!
Dia kembali tersenyum dan merasa lega.

9.3.12

Cermin dan saya sedang berbicara dengan bayang-bayang

"Yuki sangat indah dan setiap pagi saya berangan-angan untuk melihatnya " Suatu pagi dingin di akhir musim luruh saya memberitahu Hiroshi.

Via
Dia enggan mengiyakan keindahan emping-emping yuki lantas bersuara. "Apa yang indah? Mengundang resah gelisah. Kedinginan yang menyusahkan" 

Katanya saya terlalu mengagung dan melangit puji pada lembab yuki.

Saya cuma tersenyum. Saya fikir dia tidak sedar betapa bertuahnya berada di mukabumi empat musim.

Dia macam Murakami yang tidak kenal Islam. Mungkin macam Kim san yang enggan mengaku adanya Tuhan.  Mungkin seperti Ayako yang hanya bertuhankan kerja.

"Ah! bertimbun menyesakkan lorong sempit kota ini." Rungut Hiroshi masih enggan mengalah.

"Jadilah insan yang bersyukur. Kalau kau percaya adanya Tuhan, pasti tak sia-sia semua pemberian-Nya" 

Kata-kata itu sebenarnya saya hamburkan untuk diri sendiri. Lebih kepada monolog barangkali.

Masa seakan berjeda.

Kami sama-sama diam.  Saya tercari-cari Hiroshi yang pernah saya kenali dulu.

8.3.12

You said you’d wait for me, And I said I’d come running. But now I’m stuck here, At the train station, Paralysed.


Oh!

Aku perempuan
yang sering tertinggal keretapi
tanpa sengaja

Bukan
bukan aku sengaja
keretapi tetap pergi
walau aku tiba awal
atau tepat waktu

1.3.12

Berkerjasama dengan angka-angka dan pagi ini aku perlukan lebih dari secawan kopi panas

Hiroshi, barangkali benar bicaramu. Aku bukanlah insan yang sesuai untuk berkerja dengan angka-angka. Aku tidak gemarkan rutin. Aku cepat jemu dan mahu jadi surrealis. Berbicara tentang gaji dan income Hiroshi barangkali aku mengiyakan kata-katamu. Gaji adalah angka-angka. Sama seperti usia kita yang semakin meninggi. Sama seperti harga barangan yang kadang buat aku sesak nafas setiap kali keluar berbelanja.

Aku perlukan angka dan not-not itu untuk meneruskan hidup yang semakin tinggi kos saraannya. Apa kau fikir, kita akan bertemu tanpa not-not bercap kepala pembesar itu. Apa kau fikir, kita boleh minum-minum ( orcha) bersama tanpa not-not itu ?

Dan aku, seperti penjual cerita yang lain mengharap karya tersiar dan kemudian terpaksa menunggu imbuhan tertunggak dimasukkan segara ke dalam akaun.

Saat ini, aku tidak pasti; hendak menangis atau ketawa. Atau menzahirkan keduanya serentak.

Aku tersenyum kembali.

Ya! Harus positif. Seperti katamu, Tuhan akan memberikan jalan keluar.

Hiroshi, kadang aku rasa angka-angka ini bagai raksasa rakus. Menelan lahap kata-kata indah yang mahu aku tulis untukmu.

Pagi ini, entah apa mimpiku. Aku bangun pagi dan merendam secawan teh. 
Pada hal aku ini barangkali sudah masuk ke tahap perempuan coffeeholic

via en googel.com