Foto pinjam Kala langit muram dan meruntuhkan molekul-molekul H2O ; di waktu dingin basah begini, ingatan pun menguakkan pintu ke zaman lalu. Sekaki payung kertas dalam kenangan. Abah(allahyarham) sering-sering menggunakannya ketika berbasikal di waktu hujan. Orang kampung juga menggunakannya ketika kehujanan. Atau mengiringi jenazah ke teratak sementara menunggu hari perhitungan. Biarpun puluhan tahun berlalu, aromanya masih terbau-bau. Waktu itu ia cuma berwarna asli. Coklat kehitaman. Wangi!! Saya sering-sering menghidunya. Ketagihan. Umpama penghidu gam. Rasa mau dipatah-patahkan bilah-bilah rantingnya dan diratah-ratah. Memang gila! Kini. Payung kertas berganti nylon . Walau bercorak cantik warna-warna, hilang seri tanpa aroma. Katanya nylon tahan lebih lama!
“I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think.” ― Rumi