Langkau ke kandungan utama

Catatan

Tunjukkan catatan dari Mac, 2012

Jake si robot antropomorfik

“Cinta adalah bunga-bunga segar harum yang dikirim surga untuk membuat dunia tersenyum” kata Jake si robot antropomorfik yang baru aku kenali sejam tadi. Di atas elarti. Jam satu pagi.

“Wajahmu (dia menyambung serius) laksana embun menyambut pagi, dan mengilhamkan bunga untuk menebarkan keharuman di musim semi, mengilhami kumbang untuk meresapi tentang keindahan sari”

Aduh! Bosannya aku.(Sebenarnya aku suka)

“Dengan segala kecantikan dan pesona hati yang begitu sempurna, semua orang akan menilai kau adalah gadis paling beruntung, hidupnya dipenuhi oleh kesenangan dan kegembiraan.” Bibirnya masih menceceh-ceceh. Menjelikkan aku! (Sebenarnya aku suka pujiannya)

Namun dia tidak pernah menyangka hal sebetulnya. Duka dan derita telah memenjarakan aku. Kau, si robot antropomorfik cuma diprogramkan untuk menghiburkan gadis kesepian seperti aku.

Engkau yang bakal mengira bahwa jiwa aku telah terangkat. Lalu terbang dari tubuh untuk mencari keagungan cinta. Tiada yang tahu tenta…

Ini sungguh tidak adil, seperti dalam bahasa di Film-film Action Barat saat aktornya berteriak “IT’S NOT FAIR!!”

Dia menjerit-jerit dan berkata "It's not fair!" Dia terlupa ini adalah pentas bernama bumi.
Dunia!

Di alam yang lagi satu semua perkara pasti adil!
Dia kembali tersenyum dan merasa lega.

Cermin dan saya sedang berbicara dengan bayang-bayang

"Yuki sangat indah dan setiap pagi saya berangan-angan untuk melihatnya " Suatu pagi dingin di akhir musim luruh saya memberitahu Hiroshi.
Dia enggan mengiyakan keindahan emping-emping yuki lantas bersuara. "Apa yang indah? Mengundang resah gelisah. Kedinginan yang menyusahkan" 
Katanya saya terlalu mengagung dan melangit puji pada lembab yuki.
Saya cuma tersenyum. Saya fikir dia tidak sedar betapa bertuahnya berada di mukabumi empat musim.
Dia macam Murakami yang tidak kenal Islam. Mungkin macam Kim san yang enggan mengaku adanya Tuhan.  Mungkin seperti Ayako yang hanya bertuhankan kerja.
"Ah! bertimbun menyesakkan lorong sempit kota ini." Rungut Hiroshi masih enggan mengalah.
"Jadilah insan yang bersyukur. Kalau kau percaya adanya Tuhan, pasti tak sia-sia semua pemberian-Nya" 
Kata-kata itu sebenarnya saya hamburkan untuk diri sendiri. Lebih kepada monolog barangkali.
Masa seakan berjeda.
Kami sama-sama diam.  Saya tercari-cari Hiroshi y…

You said you’d wait for me, And I said I’d come running. But now I’m stuck here, At the train station, Paralysed.

Oh!
Aku perempuan
yang sering tertinggal keretapi
tanpa sengaja
Bukan
bukan aku sengaja keretapi tetap pergi walau aku tiba awal atau tepat waktu

Berkerjasama dengan angka-angka dan pagi ini aku perlukan lebih dari secawan kopi panas

Hiroshi, barangkali benar bicaramu. Aku bukanlah insan yang sesuai untuk berkerja dengan angka-angka. Aku tidak gemarkan rutin. Aku cepat jemu dan mahu jadi surrealis. Berbicara tentang gaji dan income Hiroshi barangkali aku mengiyakan kata-katamu. Gaji adalah angka-angka. Sama seperti usia kita yang semakin meninggi. Sama seperti harga barangan yang kadang buat aku sesak nafas setiap kali keluar berbelanja.
Aku perlukan angka dan not-not itu untuk meneruskan hidup yang semakin tinggi kos saraannya. Apa kau fikir, kita akan bertemu tanpa not-not bercap kepala pembesar itu. Apa kau fikir, kita boleh minum-minum ( orcha) bersama tanpa not-not itu ?

Dan aku, seperti penjual cerita yang lain mengharap karya tersiar dan kemudian terpaksa menunggu imbuhan tertunggak dimasukkan segara ke dalam akaun.
Saat ini, aku tidak pasti; hendak menangis atau ketawa. Atau menzahirkan keduanya serentak.

Aku tersenyum kembali.
Ya! Harus positif. Seperti katamu, Tuhan akan memberikan jalan keluar.