Aku cintai kamu, hujan. Walau kamu lekit, basah, dingin dan merimaskan. Aku cintai kamu, hujan. Walau mereka tuduh kamu bawa bah dan bencana. Sebenarnya penguasa-penguasa bumi yang rakus mengaut untung meterial. Sudah buta mengurus alam. Setiap kali bah, tanah runtuh dan bencana kamu bakal dipersalahkan. Kasihan kamu hujan. Aku cintai kamu, hujan. Walau ada waktu aku juga merungut-rungut basah dan kedinginan. Kernamu hujan (dengan izin Yang Paling Atas), tumbuh subur segala tanaman. Pemuas dahaga segala makhluk Tuhan di bumi, di atas dan diperutnya. Dari tumbuhan dan hidupan, kekeyangan perut segala perut. Adat untuk survival , ada kalanya perlu bunuh-bunuhan. Aku cintai kamu, hujan. Kamu dinginkan aku yang kepanasan. Kamu puaskan aku yang haus. Subhanallah!! Aku cintai kamu, hujan. Aduh! Aku belum mengangkat kain di jemuran. Tapi langit baru mendung. Belum pasti kamu merintik. Tapi aku harus selalu sediakan payung. Nota kaki: Entri spontan, tanpa draf untuk menutup cerita mencari Qus...
“I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think.” ― Rumi