Suatu malam Ramadhan entah mengapa mata tidak dapat aku lelapkan. Sulit sangat terpejam. Aku pulas-pulas tombol radio buruk dengan empat beteri yang hampir putus nyawa. Bosan. Tiada satu pun menarik perhatian. Udara panas, tambah rancak mengganas. Tambah gelisah dan mood mahu tidur hilang ditelan udara panas dan nyamuk-nyamuk rancak berdendang di tepi telinga. Aku melirik ke arah jam dinding. Sudah dini hari. Tiba-tiba teringat akan malam ini lima belas purnama. Bulan pasti terang dan cantik. Aku bergegas keluar ingin menyaksikan kalau-kalau ada bintang jatuh. (Sebenarnya, aku mahu tengok kalau-kalau ketemu Lailatul Qadar, katanya pohon-pohon pun sujud ke tanah; menyembah Yang Esa). Zaman anak-anak, tidak banyak yang kita tahu. Benar! Tapi bukan bintang yang jatuh. Ada seekor ibu kucing yng comel dibuang di hadapan rumah. Bersama lima ekor anaknya. Anak-anak mengiau-ngiau minta disusukan, sedang si ibu mengiau kelaparan. Kasihan! Aku ambil lebihan makanan Cutie, lalu ku hulurkan pada i...
“I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think.” ― Rumi